Komandan Kodiklatal Pimpin Doa Bersama Mengenang Pertempuran Laut Arafuru

Rabu, 16/01/2019 07:11 WIB

 

Kodiklatal, (15/1).           

Komandan Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut (Dankodiklatal) Laksda TNI Dedy Yulianto memimpin pelaksanaan kegiatan doa bersama mengenang pertempuran Laut Arafuru 15 Januari 1962. Doa bersama sekaligus pemutaran film pertempuran Laut Arafuru tersebut diikuti sedikitnya 1500 personil prajurit Antap dan Siswa Kodiklatal dan dilaksanakan di Gedung Moeljadi kesatrian Bumimoro Kodiklatal

Hadir dalam kegiatan terebut para pejabat Utama Kodiklatal diantaranya Wadan Kodiklatal Laksma TNI Sugeng Ing Kaweruh, S.E., M.M, para Direktur Kodiklatal, Dankodikopsla Laksma TNI Maman Firmansyah, Inspektur Kodiklatal Kolonel Laut (P) Lukman H, para Komandan Kodik, Komandan Puslat serta para Komandan Pusdik dan Komandan Sekolah dijajaran Kodiklatal.

Adapun rangkaian acara diawali dengan pembukaan, sambutan Kasal yang dibacakan Komandan Kodiklatal, pemutaran film mengenang pertempuran Laut Arafuru, mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Komandan Kodiklatal, Do’a Bersama secara Islam dan Katholik, persembahan lagu gugur bunga dan diakhiri penutup.

Kasal Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, S.E., M.M dalam sambutan yang dibacakan Komandan Kodiklatal menyampaikan bahwa acara doa bersama mengenang pertempuran Laut Arafuru 15 januari 1962 ini memiliki dua tujuan. Pertama, acara ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pahlawan pertempuran laut arafuru dan pertempuran laut lainnya, yang telah mengorbankan jiwa dan raga mereka demi mempertahankan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa para pahlawannya.

Tujuan kedua yang tidak kalah pentingnya adalah mewariskan nilai-nilai luhur para pahlawan pertempuran laut kepada generasi penerus untuk dapat diaktualisasikan dalam tugas-tugas kekinian. Kenyataan telah memperlihatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter nasionalnya yang mampu menyaring nilai-nilai global untuk kepentingan nasionalnya.

                  Menurutnya nilai-nilai kepahlawanan pertempuran laut arafuru yang mencakupsikap ksatria, rela berkorban, pantang menyerah dan tetap gigih sampai akhir sangat relevan untuk digunakan sebagai spirit mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Penguatan lima pilar poros maritim dunia membutuhkan para pelaku yang memiliki karakter sumber daya manusia maritim seperti  integritas, keberanian menghadapi resiko, dedikasi, loyalitas, mengutamakan kepentingan bersamadan teguh pada tujuan yang sebenarnya merupakan proyeksi dari nilai-nilai luhur pertempuran laut arafuru.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pertempuran Laut Arafuru yang terjadi pada tanggal 15 Januari 1962 telah tercatat sebagai pertempuran laut  paling heroik dalam sejarah Republik Indonesia. Tiga kapal cepat ALRI jenis Motor Torpedo Boat atau MTB, yaitu Ri Harimau, Ri Matjan Tutul, dan Ri Matjan Kumbang harus berjibaku melawan tiga kapal kombatan utama dan sebuah pesawat udara angkatan laut kerajaan Belanda. Ketiga mtb yang tergabung dalam satuan tugas chusus-9 atau stc-9 ini, sebenarnya mengemban tugas infiltrasi mendaratkan pasukan angkatan darat di timur Kaimana sebagai langkah awal perjuangan Trikora.

Sesuai dengan rencana operasi, unsur-unsur STC-9 harus kembali ke pangkalan manakala posisinya diketahui musuh. Namun armada tempur Belanda terus mengejar dan menyerang tiga MTB ALRI ini. Di tengah situasi genting dengan kekuatan yang tidak seimbang itu, Deputy I Men/KSAL Komodor Yos Sudarso yang berada di Ri Matjan Tutul sebagai Senior Officer Present Afloat (SOPA), mengambil alih komando kapal tersebut dengan melakukan manuver  menyongsong gerak maju tiga kapal kombatan Belanda, sehingga serangan semua kapal musuh tertuju pada ri matjan tutul.              

Kumandang “Kobarkan Semangat Pertempuran” yang diserukan oleh Komodor Yos Sudarso lewat radio telefoni, mengiringi perlawanan Ri Matjan Tutul menghadang armada musuh yang lebih unggul kekuatannya. Ri Matjan Tutul tenggelam secara gentle and brave bersama Komodor Yos Sudarso yang gugur sebagai kusuma bangsa. Pengorbanan pahlawan samudera itu justru mengobarkan sentimen nasional untuk segera mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi dan berhasil diwujudkan pada tanggal 1 mei 1963.